October 21, 2010

Mitsaqan Ghalizah (A Heavy Covenant)


Islam menggunakan istilah mitsaqan ghalizah alias perjanjian yang berat (a heavy covenant), untuk pernikahan. Alah SWT menggunakan istilah serupa untuk menggambarkan sumpah setia antara para rasul dan nabi dengan diriNya. Jadi, pernikahan sungguh bukan main-main.

Pernikahan, yang diawali dengan akad nikah dan sebuah pesta atau walimatul urusy, mensyaratkan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan kesetiaan mengikuti tuntunan Sunnah Rasulullah agar diterima sebagai ibadah dan sarana mendapatkan keberkahan dariNya.

Semua tahap prosesi ini mengisyaratkan perlunya kesungguhan, keseriusan dan keikhlasan. Bukan, bukan berarti si pengantin dan keluarganya harus bertampang serius. Betapa pun walimatul urusy justru merupakan kesempatan untuk bersilaturrahim, bergembira, tertawa, bercanda. Akan tetapi, jangan pula rendahkan kesucian dan kemuliaan upacara pernikahan dengan lelucon-lelucon saru' alias rendahan, yang dilontarkan oleh siapa pun yang terlibat di dalam prosesnya.

Aqad nikah dan walimatul urusy adalah sebuah bukti ketaatan seorang hamba pada Sang Pencipta. Bukti ketaatan para orangtua dan keluarga si hamba Allah itu kepada Yang Mahakuasa. Aqad nikah dan walimatul urusy bukanlah sebuah drama yang akan dipanggungkan di hadapan sekian penonton, dinilai kekurangan atau kemewahannya di sana sini. 

Ketika seorang lelaki berjalan mendekati ayah pengantin perempuan untuk berjabat tangan dan menerima kesediaan memikul amanah besar bernama "istri", maka seharusnya yang dipikirkannya adalah "Sang Pengawas", yakni Allah Ta'ala. "Apakah Allah ridha kepada caraku meminang calon istriku? Apakah Allah ridha pada cara kami melaksanakan pernikahan ini? Apakah Allah tak murka melihat hamparan makanan untuk para tamu yang kami siapkan ini..."

Ketika seorang perempuan menganggukkan kepala kepada sang ayah yang menanyakan kesediaannya dinikahkan dengan si lelaki, maka selayaknya berpikir, "Apakah Allah suka melihat caraku melaksanakan peristiwa suci ini? Apakah Allah ridha kepada caraku menunjukkan kegembiraanku karena pernikahan ini dengan pesta seperti ini?"

Ketika sepasang pengantin mengikat janji berat bernama pernikahan, maka yang selayaknya mereka pikirkan adalah apakah pernikahan itu akan menjadi jalan turunnya keberkahan dan ridha Allah, atau justru kemurkaanNya?

Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada "Who". Dengan siapa. Mereka yang insyaAllah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada "Why" dan "How". Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.

Sempurna atau tidaknya persiapan pernikahan, ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Berikut langkah penyempurnaan persiapan kita:

Langkah pertama, Taubat Nasuha.
Manusia sempurna bukan manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa, melainkan manusia yang menjaga diri dari perbuatan dosa, dan rajin bertaubat memohon ampun kepada Allah Ta'ala atas semua dosanya sekecil apapun itu.

Langkah kedua, Taqarrub ila Allah: shalat. dzikir dan doa.
Merapatlah sedekat mungkin kepada Allah. Sempurnakan shalat-shalat dengan memahami makna semua bacaan di dalamnya. Basahi terus kalbu dan bibir dengan tasbih, tahmid dan takbir. Angkat tangan, jadikan doa sebagai awal segala kegiatan. Jangan mengira berjalan baiknya semua urusan karena kepintaran dan keterampilan kita. Semua terjadi semata-mata karena diizinkan Allah. Mintalah keberkahan sempurna dari Allah untuk semua amal yang kita lakukan, baik kecil maupun besar.

Langkah ketiga, Ta'lim
Tambahi terus akal kita dengan ilmu yang bermanfaat mengenai segala hal, terutama yang berkaitan dengan aqad nikah dan walimatul urusy. Bukalah Al Qur'an dan kitab-kitab Hadits.

Langkah keempat, Tadrib Jasadiyah
Sempurnakan persiapan tubuh fisik dengan makanan yang bergizi tinggi, bukan berjumlah banyak. Perbanyak minum air putih, susu, madu, habbatussaudah. Berbekamlah karena Rasulullah melakuka bekam secara rutin sebulan sekali. Berolahragalah. Cek segala penyakit. Siapkan tubuh untuk menghasilkan keturunan shalih, sehat  sempurna dan cerdas, yang dijelmakan Allah menjadi keturunan Mu'min yang jauh lebih baik mutunya daripada kita.

Langkah kelima, Syahadah.
Perbarui Syahadat sebagai mission statement. Nyatakan berkali-kali baik kepada diri, dan kepada calon pengantin, kepada orangtua, bahwa kita bertekad melakukan pernikahan hanya karena Allah Ta'ala saja.

Langkah keenam, Menyempurnakan Kesamaan Visi
Alangkah indahnya jika kelima visi di atas dimiliki tidak hanya oleh diri sendiri dan calon pengantin, tetapi juga dimiliki seluruh anggota keluarga dari kedua belah pihak. Setiap kali pertemuan atau rapat persiapan pernikahan, pembicaraan mengenai visi dan misi ini harus mendominasi pembicaraan.

Langkah ketujuh, Persiapan Awal Kehidupan Berumah Tangga
Yang jauh lebih penting daripada prosesi aqad nikah dan walimatul urusy yang hanya beberapa hari itu, adalah penyempurnaan persiapan kehidupan berumah tangga lewat peningkatan kualitas ibadah, ilmu dan amal shalih dalam skala yang jauh lebih besar dan nyaris tak terbatas. Siap berpenghasilan dan mengelola keuangan dan siap untuk bermasyarakat, paham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat.


*dirangkum dari Alia-Pesona Muslimah No.04 Tahun VIII Syawal Edisi Oktober 2010

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...