March 7, 2010

Sanggupkah Indonesia Menghadapi Masa Depan Modern Berbasis Teknologi yang Mudah Diakses?

Melihat keadaan Indonesia saat ini, melihat orang-orang sekitar kita dari anak SD sampai generasi tua pun sudah pandai mengakses berbagai macam teknologi, internet dan mendapatkan layanan internet di mana-mana, saya rasa Indonesia sedang menjalani proses menuju kesanggupan untuk menghadapi masa depan yang modern berbasis teknologi yang mudah diakses itu. Namun semua itu tergantung dari masyarakatnya, apakah menerima teknologi sebagai “sesuatu yang harus dipelajari” atau “sesuatu yang sekedar diterima dan diikuti saja”.
Setiap hari selalu ada teknologi baru yang diciptakan. Semua teknologi itu dimaksudkan untuk semakin memudahkan kehidupan manusia. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di perkotaan, yang tinggal di kota-kota besar Indonesia dengan tingkat pendidikan tinggi dan yang sudah melek teknologi pun sepertinya sudah menganggapnya sebagai kebutuhan sehari-hari. Orang akan merasa susah jika tidak membawa handphone ketika keluar rumah atau merasa sengsara tidak membuka internet sehari saja.
Sebenarnya kalau membaca pernyataan di atas, terdengar mengerikan juga. Berarti secara tidak langsung sebagian besar masyarakat Indonesia sudah dijajah oleh teknologi, secara waktu, pikiran dan kehidupannya. Dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman yang canggih. Dan dibuat jadi lebih malas dan konsumtif. Di sinilah seharusnya masyarakat bisa berpikir dan pandai mengelola teknologi yang ia dapatkan. Salah satu contoh teknologi yang sangat marak menyebar di Indonesia adalah semakin mudahnya mengakses internet. Internet menyediakan berbagai macam informasi tentang apapun. Tanpa sekolah pun mungkin kita bisa menjadi pintar dengan hanya mengakses informasi dari internet. Internet membuat dunia tanpa batas dan kita seakan-akan bisa melihat isi dunia. Walaupun begitu banyak manfaat yang kita dapat dari internet, pasti internet juga memiliki beragam hal negatif dan terkadang cenderung merugikan.
Nah, yang jadi masalah adalah ketika ternyata sebagian masyarakat Indonesia hanya mengakses internet sekedar “ sesuatu yang diterima dan diikuti saja”. Memang banyak masyarakat yang pandai dan mengerti bahwa internet digunakan untuk hal-hal positif. Tapi lebih banyak juga yang menyalahgunakan internet atau tidak terlalu mengerti dengan teknologi, atau menggunakan internet hanya sebagai hiburan semata. Seperti dikutip dari Republika, 5 Januari 2010, “Menurut data dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), pengguna internet di Indonesia mencapai 30 juta pengguna atau sekitar 15 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta.Bahkan, hasil survei lembaga riset Nielsen menunjukkan penetrasi internet di Indonesia tahun ini mencapai 17 persen dari jumlah penduduk, atau naik dua kali lipat dibanding tahun 2005 yang hanya sekitar 8 persen. Peningkatan penetrasi ini disebabkan adanya peralihan dari konsumen media cetak dan elektronik ke internet. Pertumbuhan jumlah pengguna internet meningkat drastis mengalahkan media-media lain. Pengguna radio yang tadinya mengonsumsi musik lewat radio, beralih ke internet untuk mendengarkan musik sekaligus bisa men-download lagu ataupun video musik. Para pengonsumsi media cetak, seperti koran juga sudah mulai banyak yang beralih ke internet karena bisa mengakses berita lebih cepat. Jumlah pengakses berita melalui internet tumbuh 25 persen. Beralihnya minat masyarakat ke internet, antara lain karena daya tarik dari situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter yang semakin berjamur di dunia maya. Data dari Nielsen mencatat pengguna Facebook tahun 2009 di Indonesia meningkat hampir 700 persen sejak tahun lalu. Demikian juga pengguna Twitter naik hingga 3.700 persen. Kebanyakan penggunanya berusia 15-39 tahun.”
Sungguh sangat disayangkan jika masyarakat hanya menganggap internet suatu hiburan, karena seharusnya menjadi teknologi yang dipelajari dan perlu hati-hati dalam menggunakannya. Klise memang, pemerintah jangan hanya mengurusi masalah politik dan hal-hal yang sebenarnya tidak dimengerti masyarakat. Sementara pemerintah sibuk mengurusi Century, masih banyak masyarakat yang belum mengerti teknologi yang semakin lama menguasai Indonesia. Sudah banyak program internet masuk desa atau teknologi masuk desa, tapi kalau sekedar memberi layanan tanpa ada penyuluhan dan bimbingan lebih jauh, sama saja memberikan bahaya. Apalagi dengan kemudahan akses, bisa-bisa malah disalahgunakan.
Mungkin bisa dimulai dari diri kita, menekankan sikap terus belajar dan mulai memahami apa yang kita hadapi. Membimbing adik atau keluarga di rumah (walaupun sendiri masih belum terlalu menguasai), mengajak sama-sama untuk mempergunakan teknologi secara bijak. Mulai dari lingkungan kecil hingga akhirnya nanti menyebar. Karena Indonesia akan sanggup menghadapi masa depan modern jika dari sekarang sudah menekankan pada diri untuk terus belajar dan tidak asal-asalan mengikuti perkembangan teknologi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...